Mengelola Hutang Agar Tidak Jual Kutang

March 1st, 2010 Safak Muhammad Posted in Business, Financial, Inspirations | No Comments »


Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Nurul Hayat - Surabaya

Setiap hari, kita selalu di kepung dengan berbagai iklan produk dan jasa. Bahkan iklan hutang pun ada dimana-mana. Coba perhatikan, saat kita nonton televisi, commercial break atau iklan setiap saat muncul. Saat kita sedang asyik nonton tv dan ada iklan muncul, kita kemudian berniat pindah channel atau pindah saluran tv. Apa yang terjadi adalah hal yang sama, IKLAN juga muncul di sana. Demikian juga saat kita mau dengerin  radio, disana juga ada iklan. Kita dalam perjalanan, billboard iklan juga ada dimana-mana. Depan, kanan dan kiri gambar dan bujukan iklan siap menghadang kita. Kalau iklan itu hanya menawarkan produk dan jasa biasa seperti makanan, minuman atau produk properti mungkin masih kita anggap wajar. Yang banyak terjadi saat ini adalah iklan-iklan konsumtif seperti iklan liburan pakai kredit, iklan shopping pakai kartu kredit dan sejenisnya. Dengan penawaran yang menggoda, iklan itu seringkali membuat kita membelinya.

Karena itu, dalam kehidupan modern dengan gaya konsumerisme seperti saat ini, sulit kita menemukan orang yang bebas hutang. Selain tuntutan kebutuhan yang meningkat, juga karena godaan berbagai iklan produk yang setiap tahun bertambah jumlahnya. Tidak hanya itu, jika dulu orang ‘malu’ berhutang, kini hutang justru menjadi produk yang menguntungkan dan pasarnya sangat luas. Kita dapat saksikan betapa banyak bank dan lembaga perkreditan gencar menawarkan hutang kepada masyarakat. Bila melalui hutang belum berhasil menggaet debitur (konsumen), mereka berusaha menawarkan barang dengan berbagai kemudahan pembayarannya. Bahkan untuk paket liburan wisata saja, orang ditawari bayar secara kredit!.

Dalam menghadapi kondisi yang demikian itu, kita harus mampu menahan dan membedakan  mana kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Kita harus pula mengetahui managemen hutang yang baik, agar kita tidak terjerumus dalam jebakan hutang dan sampai ‘menjual kutang (maaf, BH)’ karena kita sudah kehabisan aset untuk melunasinya.

Hutang memang tidak dilarang, apalagi diharamkan. Akan tetapi mengurangi hutang dan memanfaatkan hutang sesuai dengan kebutuhan adalah cara yang paling bijaksana. Karena itu, sebelum anda  berhutang hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :

 

Niat baik

Saat anda harus ngutang maka jangan pernah sekali-kali berniat untuk tidak membayar hutang. Karena selain harus dipertanggung jawabkan di akhirat, di dunia pun, orang  yang ngemplang secara sengaja akan menemukan kesulitan. Kalau pun si pemilik uang (kreditor) tidak melakukan perlawanan, nama baik kita akan tercemar. Orang tidak akan percaya lagi pada Anda. Akibatnya, bila sewaktu- waktu membutuhkan uang atau modal, maka jangan harap mendapatkan kembali. Masalah uang dan hutang ini sangat sensitif, sehingga perbuatan jelek anda akan cepat menyebar ke berbagai kalangan. Islam mengajarkan kepada kita, agar hutang segera dilunasi bila sudah mampu membayarnya. Islam juga memberikan ajaran berupa do’a agar kita diberikan kemudahan membayar hutang.

 

Tingkat prioritas kebutuhan

Seringkali kita melakukan hutang  karena untuk membeli barang atau jasa yang sebenarnya tidak kita perlukan. Sebagai contoh, kita membeli hp baru karena ada tawaran ‘menarik’ angsuran tanpa bunga dari kartu kredit atau dari penjual hp. Padahal kita sesungguhnya belum memerlukan ganti hp. Karena ada ‘fasilitas’ hutang maka anda merasa harus membeli hp itu. Mungkin anda akan bilang dalam hati, “Kapan lagi ada kesempatan ini”. Padahal, tawaran-tawaran seperti itu hampir setiap hari ada dimana-mana. Penjual memang sengaja membuat penawaran yang seolah-olah terbatas sehingga anda harus bertindak hari itu juga. Tawaran terbatas itu misalnya, “Cicilan Tanpa Bunga Hanya Hari ini, untuk 10 Orang pertama”. Sekali lagi, ini semua adalah trik penjual. Karena, dalam membeli produk anda harus tetap berdasar prinsip prioritas pada kebutuhan, “penting dan mendesak!”

Kemampuan Membayar

Kita memang sering lupa kalau dalam berhutang harus memperhatikan kemampuan membayar. Coba perhatikan, saking semangatnya, kita sering memaksakan berhutang - meski sudah tidak memiliki kemampuan membayar, dengan harapan ada rejeki di kemudian hari. Sebagai contoh, banyak karyawan yang tidak sabar membelanjakan ‘bonus’ yang akan diterima. Mereka membeli barang konsumtif dengan cara kredit dan akan dibayar saat bonus dibagikan. Tentu saja cara ini tidak benar.

Tidak ada aturan pasti berapa persen dari penghasilan yang bisa digunakan untuk membayar hutang, namun sebagian pakar keuangan menyarankan maksimal 40 persen. Misalnya penghasilan Anda saat ini sebesar Rp4.000.000,- per bulan, maka maksimal Rp1.600.000,- yang bisa anda gunakan untuk mengangsur.

Persetujuan pasangan

Hutang yang kita ambil akan menjadi taruhan kita di akhirat, apabila kita tidak bisa melunasinya sampai mati. Itulah sebabnya kita harus memberitahukan kepada pasangan (suami/istri), agar mereka juga ikut bertanggung jawab atas hutang kita. Akan lebih baik bila anda tidak hanya memberitahukan tetapi juga mendapatkan persetujuan pasangan. Langkah ini untuk memudahkan anda dalam mengatur keuangan secara keseluruhan. Bayangkan bila Anda ngumpet karena anda tidak mendapatkan persetujuan dari pasangan, maka bila suatu saat anda tidak mampu membayar hutang, hal ini akan merepotkan pasangan bahkan bisa memicu hubungan keluarga menjadi tidak nyaman. Tidak hanya itu, beban keuangan anda juga akan bertambah berat karena anda harus membayar angsuran. Padahal kalau anda bicarakan dengan pasangan, maka pos-pos pengeluaran yang lain tentu bisa dinego atau disesuaikan sehingga bisa mengurangi beban keuangan.

Selain itu, bila hutang sudah dibicarakan, maka suka-duka dalam berhutang bisa dipikul bersama. Lebih penting dari itu, apabila anda meninggal dan hutang belum lunas, mereka akan berusaha melunasi sehingga tidak menjadi beban anda di akhirat.

Hutang Baik dan Hutang Buruk

Tidak semua hutang itu jelek, tergantung jenis dan peruntukannya. Bila digunakan untuk membeli kebutuhan konsumtif (barang-barang yang nilainya menurun) seperti membeli HP terbaru, mobil baru dan lainnya itu termasuk hutang buruk. Lain halnya kalau anda hutang untuk keperluan produktif seperti modal kerja, investasi ruko, rumah, rukan dan lainnya.

Karena itu, untuk keperluan produktif, bila anda mau, silahkan Anda berhutang! Namun untuk keperluan konsumtif, langkah yang paling bijaksana adalah tidak memaksakan diri untuk hutang atau tidak membeli secara kredit. Barang konsumtif sebaiknya dibeli secara tunai. Bila belum mampu, tunda sementara waktu untuk membeli barang tersebut. Prinsip buy now pay later (beli sekarang bayar kemudian) harus dibuang jauh-jauh untuk barang konsumtif, karena prinsip itu menyusahkan dikemudian hari.

 

Sisakan kapasitas untuk hutang darurat

Siapa pun tidak akan tahu bagaimana kondisi keuangan kita. Hari ini bisa saja rejeki anda berlimpah, tapi mungkin tahun depan rejeki anda tersendat atau berkurang. Bisa juga anda memiliki rejeki yang bertambah berlimpah. Karena adanya ketidakpastian itulah maka tidak selayaknya kita menggunakan sebagian besar penghasilan untuk membayar angsuran kredit. Kita perlu menyediakan ‘ruang’ untuk berjaga-jaga manakala kita membutuhkan dana darurat. Memang, idealnya kita memiliki dana cadangan berupa uang tunai untuk kondisi darurat tersebut. Namun bila kondisi keuangan masih belum memungkinkan untuk itu, tidak ada salahnya jika kita tidak ‘rakus’ dengan hutang sehingga tidak ada ‘ruang’ untuk berhutang lagi.

 

Prioritaskan pembayaran hutang berbunga besar.

Bila saat ini sudah terlanjur punya hutang banyak bagaimana? Bila demikian kondisinya, anda harus memprioritaskan untuk melunasi hutang yang berbunga besar. Kartu kredit, hutang rentenir atau kredit tanpa agunan (KTA) biasanya berbunga besar. Jenis kredit seperti itu harus segera dilunaskan, agar tidak membebani keuangan anda. Bila anda memiliki dua kartu kredit dengan penggunaan maksimal, prioritaskan pelunasan kartu kredit berbunga besar. Saat ini banyak bank penerbit kartu kredit yang menawarkan transfer balance (melunasi outstanding kredit di tempat lain, dan memindahkan hutangnya ke tempat penerbit kartu kredit baru). Anda dapat memanfaatkan fasilitas itu, bila bunga yang ditawarkan lebih rendah untuk melunasi kartu kredit yang sedang berjalan. Setelah lunas, sebaiknya tidak menggunakan lagi kartu kredit untuk kepentingan konsumtif. Silahkan gunting kartu kredit anda selama masa pelunasan ini agar anda tidak tergoda untuk menggesek-gesek lagi.

Selain anda memperhatikan managemen hutang sebagaimana penjelasan diatas, anda harus memperhatikan pula managemen piutang (memberikan hutang kepada pihak lain). Bagi pengusaha, hutang-piutang adalah hal biasa. Namun bagi karyawan, piutang yang diberikan biasanya hanya berhubungan dengan bantuan kepada pihak lain, jarang yang berhubungan dengan bisnis. Anda tentu tidak bisa menolak begitu saja bila ada teman, saudara atau orang dekat anda yang memerlukan bantuan keuangan. Misalnya ada saudara membutuhkan biaya sekolah atau berobat, sebaiknya anda memberikan bantuan atau hutang sesuai kemampuan. Syukur-syukur bila memberikan bantuan sesuai permintaannya. Meski niat untuk memberikan hutang untuk menolong, tidak jarang uang anda tidak terbayar. Karena itu Anda harus selektif dalam memberikan hutang. Apakah hutang benar-benar sesuai kebutuhannya ataukah si peminjam sengaja ingin ngemplang (tidak mau bayar).

Berkenaan dengan piutang tersebut, Islam mengajarkan bila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya akan lebih baik bila diberikan kelonggaran sampai kita sedekahkan, sebagaimana firman Allah :

“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh (waktu) sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Q.S Al - Baqarah (2) : 280

Wallahu a’lam bisshawaab,

semoga bermanfaat.

AddThis Social Bookmark Button

Perangkap Terbesar Keuangan Keluarga

February 4th, 2010 Safak Muhammad Posted in Business, Family, Financial, Inspirations | 1 Comment »


Tulisan ini sudah di muat di Majalah Nurul Hayat - Surabaya

Liburan panjang akhir tahun ini mengingatkan liburan saya beberapa waktu lalu, saat mengantarkan anak ke Gelanggang Samudra di Ancol Jakarta. Di arena hiburan ini, pihak pengelola menyajikan berbagai hiburan yang dilakonkan oleh beberapa binatang yang berbeda. Ada pertunjukan lumba-lumba dan paus putih dengan berbagai atraksinya yang menarik dan mendebarkan. Ada pertunjukan anjing laut dengan tontonannya yang unik dan lucu. Ada juga kuda nil, binatang dengan badan gendut itu yang mampu membuat penonton ketawa riang. Dari berbagai arena pertunjukan itu, ada satu kesamaan perilaku yang dipertontonkan kepada pengunjung yakni motivasi para binatang yang hanya mau beratraksi apabila di kasih makan. Habis makan, langsung beratraksi, begitu seterusnya.

Tanpa kita sadari, kita juga seringkali terjebak pada perilaku seperti (maaf) binatang diatas. Kita hanya mau bekerja kalau diiming-imingi dengan upah, uang atau imbalan sejenisnya. Lebih ironis lagi, ketika kita sudah mendapatkan uang, maka uang itu kemudian habis kita makan atau kita gunakan untuk kebutuhan sejenisnya. Kemudian kita bekerja lagi dengan harapan dapat uang, kemudian uang itu habis lagi. Atau uang kita timbun secara terus menerus, karena kita takut tidak punya uang. Begitu seterusnya lingkaran ini berlanjut. Akhirnya kita terjebak pada pola rutinitas, dan pola ketergantungan pada pekerjaan tertentu.

Jika kita menelusuri hidup orang kebanyakan, skenario finansial mereka sering terjadi seperti ini: Seorang manusia kecil, anak-anak, berjuang untuk sekolah agar lulus dengan nilai yang baik, kemudian mencari pekerjaan. Tak lama kemudian, mereka berhasil mempunyai sedikit uang untuk dibelanjakan. Saat mereka menginjak dewasa, mereka menyewa rumah kos atau apartemen, membeli TV untuk hiburan di rumah, membeli beberapa mebel untuk perlengkapan, dan tentu saja membeli sepeda motor atau sebuah mobil idaman. Maka jangan heran, bila sekarang tagihan mulai berdatangan.

Sang manusia ini ini merasa sudah dewasa, dan merasa sudah mandiri. Maka disaat sang dewasa ini bertemu seseorang yang istimewa, bara api cinta beterbangan dan mereka jatuh cinta. Lalu mereka menikah dengan melakukan pesta pernikahan yang mewah. Kalaupun tidak punya uang, pinjam kesana kemari. Mereka bulan madu, dan sesaat hidup terasa indah karena dua orang ini bisa hidup bersama dengan berbagi kasih. Mereka sekarang mempunyai dua pemasukan, karena suami istri bekerja. Karena mereka hanya membayar satu biaya sewa tempat tinggal, maka mereka bisa menabung beberapa rupiah untuk membeli impian yakni memiliki rumah sendiri.

Tak lama kemudian, mereka menemukan rumah impian, mengambil uang dari tabungan dan menggunakannya sebagai uang muka (DP) rumah itu dan sekarang mereka mempunyai hutang kepemilikan rumah (KPR). Dalam pikiran mereka kemudian muncul, “Tidak lengkap kalau rumah baru tanpa mebel atau furniture baru”. Karena itu, kemudian mereka membeli  mebel baru. Mereka kemudian menemukan iklan di sebuah surat kabar, “Tidak perlu uang muka, anda bisa mendapatkan mebel dengan angsuran murah”. Maka, kartu kredit mereka gesek untuk membeli mebel itu. Kalau pun kartu kredit tidak ada, mereka akan mengambil mebel dengan cara kredit.

Seolah ingin terus menikmati hidup yang terasa indah, mereka kemudian mengadakan pesta mengundang semua teman untuk ‘tasyukuran’ atau melihat rumah baru, mobil baru, mebel baru, dan mainan baru mereka. Kelihatannya indah, tapi apa yang terjadi sesungguhnya, mereka sudah mulai terjerat hutang, terperangkap dalam masalah keuangan.

Tidak lama kemudian, anak pertama lahir. Pasangan ini bekerja keras mencari uang, dan karena kesibukan kedua pasangan ini, mereka menitipkan anak balitanya  ke penitipan balita. Mereka terperangkap oleh kebutuhan mereka, hingga akhir hayatnya.

Menurut Robert Kiyosaki dalam bukunya, The Cash Flow Quadrant dan Rich Dad Poor Dad, bahwa kebanyakan orang mempunyai harga, dan mereka mempunyai harga karena emosi manusia yang disebut ketakutan dan ketamakan. Pertama, takut hidup tanpa uang sehingga memotivasi kita untuk bekerja keras, dan kemudian setelah kita mendapatkan slip gaji, ketamakan atau nafsu mengajak kita untuk mulai berpikir tentang semua hal indah yang bisa dibeli dengan uang. Pola itu pun kemudian terus terbentuk. Pola bangun tidur, bekerja, membayar tagihan, bangun tidur, bekerja, membayar tagihan. Kehidupan mereka selamanya digerakkan dan dijalankan oleh dua emosi, yakni ketakutan dan ketamakan. Tawarilah mereka uang lebih banyak, dan mereka pun meneruskan siklus itu dengan meningkatkan pengeluaran mereka. Inilah yang dimaksudkan sebagai perlombaan tikus.

Ketakutan itu tetap menghantui mereka, dan karenanya mereka kembali bekerja, lagi-lagi bekerja berharap bahwa uang akan menenangkan ketakutan mereka, dan ternyata tidak lagi. Ketakutan telah menyebabkan mereka untuk bekerja, memperoleh uang, bekerja lagi, memperoleh uang lagi; dengan harapan agar ketakutan itu pergi. Tetapi setiap hari ketika mereka bangun tidur, ketakutan itu pun bangun bersama mereka. Bagi jutaan orang, ketakutan itu membuat mereka terjaga sepanjang malam, menyebabkan malam hari menjadi penuh kegalauan dan kecemasan. Karena itu mereka bangun dan pergi bekerja, dengan harapan upah yang mereka terima akan membunuh ketakutan yang menggerogoti jiwa mereka. Uang mengendalikan hidup mereka, dan mereka menolak untuk mengatakan kebenaran ini. Uang menguasai emosi mereka dan karena itu juga menguasai jiwa mereka.

Karena itulah kita seringkali menyaksikan banyak orang yang selalu bergegas berangkat bekerja dan kelihatannya tidak menyenangkan tetapi mereka tetap harus bekerja karena ada yang ‘memaksa’, yakni kebutuhan. Tidak hanya perangkap kebutuhan, tetapi juga perangkap tagihan seperti tagihan listrik, tagihan pajak, tagihan telepon, sampai tagihan hutang.

Kita tentu tidak ingin perangkap ini terjadi pada diri kita. Demikian juga sebaliknya, kita juga jangan terperangkap hanya menjadi kaya, karena hanya menjadi kaya tidak selalu memecahkan masalah. Kenapa? Karena ada yang namanya hasrat atau keinginan, atau ada yang menyebutnya ketamakan. Sangatlah wajar bila seseorang menginginkan sesuatu lebih baik, dan lebih menyenangkan. Jadi orang bekerja untuk uang karena keinginan. Mereka menginginkan uang untuk kesenangan yang mereka pikir bisa mereka beli. Tetapi, sayangnya, kesenangan yang dibawa uang seringkali tidak lama, dan mereka pun segera menginginkan uang lebih banyak untuk mendapatkan kesenangan yang lebih banyak lagi, kenikmatan lebih banyak, kenyamanan lebih banyak, dan keterjaminan lebih banyak. Karena itu mereka terus bekerja keras, mengira bahwa uang akan menenangkan jiwa yang diganggu oleh rasa takut. Kenyataannya uang tidak selalu dapat menenangkan jiwa. Orang kaya juga termasuk dalam ketakutan ini. Buktinya, banyak orang kaya bukan karena keinginan (menjadi kaya) tetapi karena rasa takut. Mereka berpikir bahwa uang dapat menyingkirkan rasa takut yang disebabkan tidak memiliki uang (miskin), sehingga mereka menimbun berton-ton uang. Namun mereka sekarang takut kehilangan uang. Perhatikan orang yang mempunyai uang milyaran rupiah, mereka justru menjadi lebih takut dibandingkan saat mereka miskin. Mereka sangat takut kehilangan uang mereka. Mereka tidak ingin kehilangan rumah mewah, mobil mewah yang sudah pernah mereka nikmati.

Berdasarkan penjelasan diatas, dan agar kita tidak terperangkap dalam kondisi yang demikian itu, maka dalam setiap pengelolaan keuangan kita harus memulai dari pemahaman yang benar tehadap hakikat uang dan pekerjaan, serta penguasaan pada emosi alias  nafsu kita. Pemahaman yang benar terhadap uang adalah uang bukanlah segalanya. Uang hanyalah sarana dalam kehidupan ini. Baik uang maupun pekerjaan tidak bisa menjamin kehidupan kita. Hanya pemahaman yang benar dan kemampuan kita dalam mencari uang dan mengelola uang dengan baik yang akan membuat kehidupan ini menyenangkan. Demikian juga dengan penguasaan emosi, harus menjadi prioritas dalam pengelolaan keuangan.

Lalu bagaimana pengelolaan keuangan yang baik, adalah bagaimana kita dapat mengelola pengeluaran kita selalu lebih kecil daripada penerimaan. Istilah yang popular adalah ‘Jangan lebih besar pasak daripada tiang”, karena ini akan membuat kita terperosok dalam jeratan dan perangkap besar kehidupan ini. Selain itu, dalam pengelolaan keuangan yang baik juga menyadarkan kita bahwa semua penghasilan atau rezeki yang kita terima didalamnya ada titipan rezeki orang lain yang harus disalurkan dalam kegiatan berbagi. Dengan kegiatan berbagi ini, maka tidak akan ada lagi perangkap bagi kita karena kita telah menumpuk-numpuk harta dan selalu takut kehilangan harta. Kegiatan berbagi yang dilakukan dengan baik, secara tidak sadar akan membuat pikiran kita tenang dan tidak takut kehilangan harta yang kita miliki. Kita tidak lagi takut miskin, karena berbagi itu kita yakini sebagai kekayaan mental yang selalu mendatangkan kekayaan harta. Karena Allah selalu melipatgandakan setiap harta yang kita keluarkan untuk berbagi.

AddThis Social Bookmark Button