Perencanaan Pengeluaran Keuangan

Salah satu bentuk pertanggung jawaban terhadap harta adalah bagaimana membelanjakan harta, untuk apa dan kemana saja. Berkenaan dengan itu, kita perlu memiliki perencanaan keuangan yang tidak hanya fokus kehidupan dunia, tetapi juga akhirat. Ini yang membedakan antara perencanaan keuangan konvensional dengan perencanaan keuangan Islami.

Perencanaan pengeluaran tidak harus pelit, tidak sebaliknya pula boros, tetapi berada ditengah-tengah. Kita tidak boleh hanya menumpuk – numpuk harta dan takut menikmati (sangat pelit). Bagaimanapun tujuan mencari uang adalah untuk dinikmati di dunia dan memberi manfaat untuk kehidupan akhirat.

Berapa idealnya orang harus membelanjakan uang untuk keperluan hidup? Tidak ada aturan baku, tetapi sebagian pakar keuangan keluarga menyarankan maksimal 70 persen dari penghasilan. Sisanya, 30 persen untuk tabungan, investasi atau membeli aset.  Sayangnya, sebagian besar orang menghabiskan uangnya untuk kebutuhan rutin hidupnya lebih besar dibandingkan kebutuhan lainnya. Apabila digambarkan akan membentuk sebuah piramida*) berikut :

         

ZIS (Zakat Infaq Sedekah)

Menabung & Investasi

Bayar Hutang

Biaya Hidup

                                                                    

Semakin kecil penghasilan seseorang maka semakin besar prosentase alokasi untuk kebutuhan rutin seperti sandang, pangan dan papan. Kondisi ini bisa ditemukan pada saudara – saudara kita yang kurang beruntung dengan penghasilan dibawah upah minimum regional (UMR). Sebaliknya semakin besar penghasilan seseorang, seharusnya semakin besar bagian yang diinvestasikan.

Kondisi piramida diatas, sebenarnya bukanlah kondisi ideal untuk seorang muslim. Perhatikan bagian prosentase untuk beramal (ZIS) merupakan bagian terkecil dalam sebuah piramida.

Kondisi idealnya apabila komposisi pengelolaan keuangan dibalik, dimana bagian untuk bayar hutang merupakan bagian terkecil atau tidak ada sama sekali dan bagian terbesarnya adalah investasi dunia – akhirat. Bukankah kehidupan kita akan abadi di akhirat sehingga ‘investasi’ akhirat harus diperbesar? Tetapi masalahnya bisakah mengelola keuangan seperti itu? Semuanya tidak ada yang mustahil!

Kondisi seperti dibawah ini seharusnya lebih mudah dicapai oleh orang – orang yang berpenghasilan besar.

Bayar Hutang

Biaya Hidup

ZIS

Menabung & Investasi

 

*) gambar piramida, meruncing diatas 

Prinsip pengelolaan keuangan sebaiknya tidak hanya fokus bagaimana caranya mendapatkan penghasilan tetapi juga pada pengeluaran yang baik. Mengapa harus memberikan perhatian khusus terhadap pos pengeluaran keuangan? Karena ada beberapa faktor berikut ini :

  • 1. Pertanggungjawaban di akhirat. Harta adalah amanat sehingga setiap rupiah yang dibelanjakan harus dipertanggung jawabkan kepada Allah .
  • 2. Agar setiap rupiah yang dibelanjakan memberi manfaat sebesar – besarnya (berkah). Orang Islam harus memperhitungkan setiap rupiah pengeluaran, karena dalam konsep harta – sebagaimana dibahas sebelumnya, adalah pertanggungjawaban di akhirat. Kita tidak boleh semau gue membelanjakan uang, seperti membeli minuman keras, pergi ke tempat pelacuran, berjudi dan lainnya. Sekecil apa pun tetap tidak boleh, No way!.
  • 3. Godaan konsumerisme. Iklan ada dimana – mana, membujuk kita dan anak – anak untuk mengikuti keinginan penjual atau pemasang iklan. Barang – barang yang seharusnya tidak mendesak untuk dibeli, dengan adanya iklan dan dorongan hidup konsumerisme barang tersebut menjadi penting dihadapan kita. Akibatnya kita merasa harus membeli barang – barang tersebut. Oleh karena itu kita harus mampu menentukan pos-pos prioritas dan pos pelangkap. Pos – pos pengeluaran yang biasanya paling besar menguras kantong adalah elektronik, telepon, handphone, pakaian, makanan, hiburan, mobil. Sebagai contoh pakaian, seringkali merasa harus ganti setiap bulan, meski kondisi pakaian masih baik. Membeli pakaian setiap bulan hanya untuk mengkuti trend mode.
  • 4. Kenaikan harga barang. Dalam perekonomian yang normal saja, kenaikan harga barang bisa terjadi akibat inflasi. Apalagi dalam kondisi ekonomi seperti Indonesia yang masih rentan terhadap perubahan ekonomi dunia. Barang – barang gampang sekali naik karena sebagian besar produk yang dijual di negeri ini adalah barang impor. Melemahnya rupiah akan berdampak signifikan kepada kenaikan harga barang. Kenaikan harga barang – barang bisa disebabkan oleh dua faktor. Pertama karena adanya kenaikan permintaan. Dalam bahasa ekonomi, kenaikan harga barang yang disebabkan oleh kenaikan permintaan disebut demand pull inflation atau inflasi karena kenaikan permintaan. Kedua, kenaikan harga karena adanya tekanan biaya. Kenaikan harga akibat tekanan biaya disebut cost push inflation. Anda tentu ingat ketika pada 1 Oktober 2005 lalu pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) rata-rata hampir 100 persen. Premium yang sebelumnya Rp.2400 per liter menjadi Rp.4500,- per liter. Kenaikan BBM menambah biaya dalam memproduksi barang dan jasa. Akibatnya pasti, pengusaha ramai – ramai menaikkan harga barang produksi dan jasanya. Ongkos yang paling heboh duluan saat kenaikan harga BBM adalah kenaikan ongkos transportasi, kemudian diikuti barang – barang lainnya. Pokoknya pada naik semua! Kalau sudah begini, pengeluaran kita meningkat untuk membeli barang dan jasa yang sama. Bila kita masih mampu membeli, tidak ada masalah. Sebaliknya kita tidak mampu mengimbangi kenaikan harga itu, bisa dipastikan standar hidup menjadi turun. Betul khan? Karena kita harus mengurangi konsumsi atas barang dan jasa yang sama. Misalnya bila sebelum kenaikan harga kita bisa makan daging 3 hari sekali, sekarang mungkin hanya 2 minggu sekali. Pertanyaannya sampai kapan bisa bertahan untuk mengurangi konsumsi atas barang dan jasa itu? Bila kebutuhan atas sesuatu barang tidak mendesak, tidak ada masalah untuk dikurangi. Tetapi kalau mendesak seperti susu anak-anak, gimana? Maka disinilah perlunya menata ulang strategi pengeluaran.

Dalam membuat perencanaan pos – pos pengeluaran, harus memperhatikan prinsip berikut :

  • 1. Menabung dulu, sisanya untuk ‘berhura – hura’

“Bayarlah dirimu lebih dulu”. Demikian prinsip utama dalam pengelolaan keuangan. Apa maksudnya? Utamakan lebih dulu pengeluaran uang untuk menabung dan investasi, membeli aset produktif. Bukan sebaliknya, menabung dari sisa pengeluaran. Bila menabung merupakan sisa dari pengeluaran, maka yang sering terjadi, orang tidak akan pernah menabung. Kalau pun menabung, nilainya tidak signifikan (kecil sekali).

Kondisi BERBAHAYA          Menuju SUKSES FINANSIAL

Penghasilan                                               Penghasilan

Dikurangi                              Hijrah             Dikurangi

Pengeluaran                                               TABUNGAN

Sisa TABUNGAN                                           Sisa Pengeluaran

      

 

       

       

 

 

 


 

Bila kita sudah menyisihkan untuk tabungan dan investasi, maka tidak ada salahnya ‘berhura-hura’ menghabiskan penghasilan yang tersisa tersebut. Terserah, uang digunakan untuk apa saja, tentu sesuai syariah!

  • 2. Menetapkan lebih dulu standar gaya hidup

Tanpa menetapkan standar gaya hidup, pengeluaran keuangan menjadi tidak terarah. Pengeluaran bisa mengikuti besarnya penghasilan, bahkan bisa melebihi penghasilan alias defisit. Masih ingatkah ketika Anda pertama kali mendapatkan penghasilan dengan gaji tertentu? Bagaimana gaya hidup Anda saat itu? Tentu  gaya hidup Anda sesuai dengan kondisi keuangan saat itu. Namun seiring dengan peningkatan karir atau keberhasilan bisnis sehingga penghasilan meningkat, bagaimana gaya hidup Anda sekarang? Dulu tidak memiliki mobil, Anda masih bisa naik angkutan umum. Sekarang, setelah memiliki mobil pun masih tergiur mobil yang lebih bagus sehingga biaya transportasi meningkat. Begitu seterusnya….. Pedoman yang paling baik dalam menentukan standar hidup adalah kesederhanaan. Tidak memaksakan diluar kemampuan. Tidak mengikuti gaya hidup orang lain. Anda adalah diri Anda sendiri. Sebagai contoh bila Anda seorang manager sebuah bank, tidak layak bila Anda bergaya seperti direktur bank, meski mungkin Anda sering bertemu dengan direktur bank.

  • 3. Jangan besar pasak dari pada tiang

Pernyataan ini, sudah sangat familiar. Tapi entah kenapa masih banyak yang melanggarnya? Ada beberapa faktor. Misalnya penghasilan terlalu kecil sehingga tidak memenuhi kebutuhan standar hidup minimum. Tetapi dari sekian kasus yang terjadi, faktor utama yang menyebabkan pengeluaran lebih besar dari pada penghasilan alias besar pasak daripada tiang (defisit) adalah karena orang tidak bisa memberikan prioritas pengeluaran, mengumbar nafsu – syahwat serta lapar mata.  Bila yang terjadi demikian, maka tunggulah kebangkrutannya. Sebab masalah besar selalu bermula dari masalah keuangan. Orang yang selalu defisit keuangannya, bila masih memiliki simpanan (tabungan) lama kelamaan akan habis.  Bila simpanan sudah habis, akan menjual harta benda yang dimiliki dan bila sudah habis pula, akan mencoba hutang kesana – kemari, gali lubang tutup lubang dan akhirnya dikejar-kejar debt collector alias penagih hutang berbadan besar.

     Calon Konglomerat                                      Calon KongloMELARAT

PENERIMAAN

Lebih Besar dari

Pengeluaran Penerimaan

 

Lebih Kecil dari

PENGELUARAN
  • 4. Menunda kesenangan

Prinsip menunda kesenangan bukan berarti tidak boleh bersenang – senang. tetapi mampu menahan kesenangan yang berlebihan. Menunda kesenangan berarti hidup sederhana. Bila kita mampu membeli handphone baru seharga Rp.10.000.000,-, dengan konsep menunda kesenangan, kita tidak membeli HP seharga itu, tetapi hanya seharga misalnya Rp.2.000.000,- dan sisanya untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat dan menambah aset (investasi).

  • 5. Prioritas kebutuhan, bukan prioritas keinginan.

Kita harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi, seperti makan, susu anak dan biaya sekolah. Sedangkan keinginan tidak harus dipenuhi karena belum tentu merupakan kebutuhan mendesak. Misalnya kita sudah memiliki motor, ingin membeli motor keluaran terbaru, padahal manfaatnya tetap sama untuk alat transportasi. Keingingan membeli motor terbaru itu mungkin karena gaya atau estetika, namun alasan ini tidak mendesak untuk dipenuhi. Tidak penting!. Berikut ini gambar kuadran prioritas kebutuhan :

                                                              Tingkat Kebutuhan

Penting

TidakPenting

 


Mendesak

Kuadran I :

Penting,

Mendesak

Tingkat Prioritas

(contoh investasi, uang sekolah, berobat, ganti kompor gas yang rusak)

 

 

Kuadran III :

Tidak Penting,

Mendesak

(contoh bayar cicilan barang elektronik, cicilan kartu kredit)

 

 

Kuadran II :

Penting,

Tidak

Mendesak

Tidak Mendesak

(contoh biaya haji, rekreasi)

 

 

Kuadran IV :

Tidak Penting,

Tidak Mendesak

(contoh ganti mobil baru, HP baru, berlibur ke LN)

Demikian, semoga bermanfaat.