Mencicil Seumur Hidup

Cerita ini mungkin bisa menjadi cermin bagi diri kita. Sebagian besar orang, mengalami putaran kehidupan seperti ini. Perhatikan, orang-orang bersekolah atau kuliah berharap agar hidupnya (secara financial) lebih baik. Tapi sayangnya, sebagian besar orang-orang sekolahan ini justru terperangkap hutang seumur hidup. Usut punya usut, ternyata itu semua disebabkan karena mereka tidak memiliki kecerdasan finansial. Biasanya mereka memiliki pola seperti ini. Lulus sekolah, cari kerja untuk mendapatkan penghasilan. Kemudian mereka menikah dengan suami/istri yang sama-sama bekerja. Beberapa bulan kemudian pasangan pengantin baru ini membeli rumah dengan cara mengangsur (mencicil).
Seiring dengan kenaikan gaji, mereka pun mulai meningkatkan kenyaman hidupnya. Mereka memberanikan diri mengangsur mobil. Mereka juga meningkatkan citra dirinya dengan cara berganti-ganti HP, pergi ke café, berpakaian branded, shopping di mall dengan belanja yang belum tentu berguna. Mereka juga mulai merenovasi rumah yang masih layak dihuni, atau bahkan berpindah ke tempat yang lebih besar. Sayangnya, semua itu mereka lakukan dengan cara mencicil. Begitu seterusnya, seumur hidup mencicil!. Hal ini mereka lakukan agar bisa tampil seolah-olah tampak kaya, padahal sebenarnya belum kaya.
Dalam kehidupan modern dengan gaya konsumerisme, memang berat menahan godaan konsumerisme seperti itu. Bahkan di zaman seperti ini, sulit menemukan orang yang bebas hutang. Selain tuntutan kebutuhan yang meningkat, juga godaan berbagai iklan produk yang setiap tahun bertambah jumlahnya. Tidak hanya itu, jika dulu orang ‘malu’ berhutang, kini hutang justru menjadi produk yang menguntungkan dan pasarnya luas. Kita dapat saksikan betapa banyak bank dan lembaga perkreditan gencar menawarkan hutang kepada masyarakat. Bila melalui hutang belum berhasil menggaet debitur (konsumen), mereka berusaha menawarkan barang dengan berbagai kemudahan pembayarannya. Bahkan untuk paket liburan wisata saja, orang ditawari bayar secara kredit!.
Menghadapi kondisi yang demikian itu, kita harus mampu menahan dan membedakan mana kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Kita harus pula mengetahui managemen hutang yang baik. Hutang memang tidak dilarang, apalagi diharamkan. Akan tetapi mengurangi hutang dan memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan adalah cara bijak. Karena itu, sebelum berhutang harus memperhatikan hal-hal berikut :

Tingkat prioritas kebutuhan
Benarkah kita membutuhkan hutang baik berupa uang tunai atau dalam bentuk barang? Kadang – kadang orang lebih mengikuti keinginan daripada kebutuhan yang seharusnya. Misalkan saja Anda mendapatkan tawaran handphone dengan cicilan selama 12 bulan. Saat itu Anda memiliki handphone tapi fitur dan teknologinya belum mutakhir. Karena nafsu, godaan dan dorongan penjual, Anda menerima tawaran itu. Padahal HP Anda saat itu masih bisa digunakan. Anda juga sebenarnya tidak membutuhkan fitur-fitur lain yang lebih canggih karena kebutuhan utamanya hanya menelepon dan menerima panggilan. Dengan demikian, membeli HP yang lebih baru bukanlah kebutuhan mendesak, dibandingkan dengan biaya anak sekolah misalnya.

Kemampuan Membayar
Kita sering lupa kalau berhutang harus memperhatikan kemampuan membayar. Bahkan saking semangatnya, kita memaksakan berhutang – meski sudah tidak memiliki kemampuan membayar, dengan harapan ada rejeki dikemudian hari. Sebagai contoh, banyak pegawai tidak sabar membelanjakan ‘bonus’ yang akan diterima. Mereka membeli barang konsumtif dengan cara kredit dan akan dibayar saat bonus dibagikan. Padahal, kebiasaan membayar bonus itu tidak dapat dipastikan karena tergantung kinerja perusahaan. Bila perusahaan untung maka bonus dibayarkan, tetapi bila tidak memenuhi target atau rugi maka bonus pasti tidak dibayarkan. Dalam managemen hutang, kejadian seperti ini tidak dapat dibenarkan karena uang yang belum diterima tidak dapat dijadikan ‘jaminan’ membeli barang yang tidak penting dan tidak mendesak.
Tidak ada aturan pasti berapa persen dari penghasilan yang bisa digunakan untuk membayar hutang, namun sebagian pakar keuangan menyarankan maksimal 30 persen. Misalnya penghasilan Anda sebesar Rp.5.000.000,- per bulan, maka maksimal Rp.1.500.000,- yang dapat digunakan untuk mengangsur.
Bila tidak memperhatikan kemampuan membayar, kita bisa terpuruk bahkan terjebak seumur hidup membayar angsuran kredit.

Hutang Baik Vs Hutang Buruk
Tidak semua hutang itu jelek, tergantung jenis dan peruntukannya. Bila digunakan untuk membeli kebutuhan konsumtif (barang – barang yang nilainya menurun) seperti membeli HP terbaru, mobil baru dan lainnya itu termasuk hutang jelek. Berbeda bila hutang untuk keperluan produktif seperti modal kerja, investasi ruko, rumah, rukan dan lainnya. Jadi untuk keperluan produktif, silahkan Anda berhutang! Namun untuk keperluan konsumtif, langkah yang paling bijaksana adalah tidak memaksakan diri membeli secara kredit. Barang konsumtif sebaiknya dibeli secara tunai. Bila belum mampu, tunda sementara waktu untuk membeli barang tersebut. Prinsip buy now pay later (beli sekarang bayar kemudian) harus dibuang jauh-jauh untuk barang konsumtif, karena prinsip itu menyusahkan dikemudian hari.
Bagaimana bila kita butuh uang mendesak seperti untuk berobat atau mengganti kompor gas yang rusak?. Untuk berobat tentu tidak bisa ditunda – tunda, demikian juga untuk membeli kompor gas juga tidak bisa ditunda karena sangat dibutuhkan untuk kegiatan masak – memasak.

Persetujuan pasangan
Hutang menjadi taruhan di akhirat. Itulah sebabnya kita harus memberitahukan kepada pasangan (suami / Istri), agar mereka juga ikut bertanggung jawab atas hutang kita. Lebih baik bila tidak hanya memberitahukan tetapi juga persetujuan dan kerelaan pasangan. Langkah ini untuk memudahkan mengatur keuangan secara keseluruhan. Bayangkan bila Anda ngumpet terhadap pasangan, maka bila suatu saat tidak mampu membayar hutang, Anda akan merepotkan pasangan bahkan bisa memicu hubungan keluarga menjadi tidak nyaman. Sebaliknya bila hutang sudah dibicarakan, maka suka – dukanya hutang akan dipikul berdua. Lebih penting dari itu, apabila meninggal, mereka berusaha melunasi.

Nah, agar hutang dapat memberikan manfaat yang sebesar – besarnya maka kita dapat melakukan strategi berikut ini :
(a) Mempercepat pelunasan hutang konsumtif
Semakin lama mengangsur barang – barang konsumtif, semakin besar kerugian yang akan terjadi. Maka dari itu percepatlah pelunasan hutang konsumtif. Saya justru menyarankan, untuk barang konsumtif sebaiknya tidak dibeli secara kredit tetapi lebih baik dengan tunai. Bila tidak mampu tunai, tabunglah sampai cukup membelinya.
(b) Memperbesar dan memperlambat pelunasan hutang produktif
Tidak ada salahnya memperbesar hutang produktif asalkan secara kalkulasi keuangan mampu terbayar. Tidak selamanya hutang itu buruk, karena untuk kasus-kasus tertentu hutang malah ‘dianjurkan’, seperti membeli rumah, kios, ruko atau barang-barang yang menghasilkan atau nilainya naik setiap tahun. Dalam jangka panjang, membeli barang seperti itu biasanya menguntungkan. Kenaikan harga tanah dan bangunan biasanya lebih besar dari angsuran dan bagi hasil (bunga).
Misalnya Anda membeli ruko seharga Rp.500 juta dengan kredit sebesar Rp.400 juta selama 10 tahun. Dalam hitungan 3 tahun, harga ruko bisa naik hampir 2 kali lipat. Bila Anda ingin menjual ruko tersebut dengan harga Rp.1 milyar, Anda akan mendapatkan keuntungan kotor sebesar Rp.600 juta. Setelah dikurangi dengan opportunity cost (peluang yang hilang dari uang muka Rp.100 juta, bila diinvestasikan dengan asumsi hasil investasi 10% selama 3 tahun ± Rp.30 juta) dan biaya kredit Rp. 400 juta selama 3 tahun ± Rp.168 juta (asumsi bunga 14%) maka keuntungan Anda ± Rp.462 juta. Inilah strategi hutang yang oleh sebagian pengusaha dimanfaatkan untuk meningkatkan asetnya dalam waktu cepat, dengan cara memperbesar hutang produktif.
Memperlambat pelunasan, otomatis memperkecil jumlah angsuran dengan jangka waktu yang panjang. Dengan cara ini, Anda tidak dirugikan karena barang yang dibeli nilainya akan naik setiap tahun, disamping barang tersebut memberikan penghasilan (sewa dan lainnya).
Dengan melakukan dua strategi pengelolaan hutang diatas, Insya Allah kita tidak akan mencicil seumur hidup.

Demikian, semoga bermanfaat!

Tulisan ini juga di muat di Majalah Nurul Hayat Surabaya

3 responses on Mencicil Seumur Hidup

  1. Bagus banget mas postingnya. aku juga kayaknya lagi terjerat mencicil seumur hidup nih…. mudah2an bisa terlepas dari jeratan itu mas…

Comments are closed