Sekolah, Buah Simalakama? (Bagian Terakhir)

Realitas berbicara lain. Puluhan juta lulusan sekolah terpaksa menganggur karena sulitnya mencari pekerjaan, akibat lapangan pekerjaan minim jumlahnya. Pada tahun 2003 saja jumlah pengangguran mencapai lebih dari sepuluh juta orang dan tahun 2004 diprediksi sebelas juta orang. Kesulitan ini semakin dirasakan oleh pencari kerja karena masih banyak perusahaan yang mensyaratkan pengalaman kerja dalam merekrut pegawai. Oleh karena itu, untuk yang baru lulus sekolah, bagaimana mereka dapat bersaing dengan fair untuk mendapatkan pekerjaan karena memang mereka belum pernah bekerja.

Peristiwa yang terjadi pada Pameran Karier Expo di Jl.Gatot Subroto pada tahun 2003, yang mengakibatkan kericuhan dan Indo Karir Expo pada Januari 2004 di gedung indoor Senayan – Jakarta yang dihadiri lebih dari sepuluh ribu orang, seharusnya membuka mata dan telinga semua pihak untuk instropeksi mengenai tujuan pendidikan yang hanya berorientasi pekerjaan. Bahkan sejak jauh-jauh hari, tahun 1980-an, Iwan Fals penyanyi legendaris terkenal, telah mengkritik sistem pendidikan dengan output-nya melalui sebuah lagu yang berjudul Sarjana Muda. Inilah petikan liriknya, semoga dapat membuka kembali pikiran kita untuk instropeksi diri.

Berjalan seorang pria muda dengan
Jaket lusuh dipundaknya
Disela bibir tampak mengering terselip
sbatang rumput liar

Jelas menatap awan berarak
Wajah murung smakin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah kringat
bercampur debu jalanan

Engkau sarjana muda, resah mencari kerja
Mengandalkan ijazahmu, empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku tuk jaminan masa depan

Langkah kakimu terlihat didepan halaman sebuah jawatan

Tercenung lesu engkau melangkah dari pintu

kantor yang diharapkan

Terngiang kata tiada lowongan untuk

 

kerja yang didambakan

Tak perduli berusaha lagi namun kata sama kau dapatkan

Jelas menatap awan bergerak

Wajah murung s’makin terlihat

Engkau sarjana muda resah tak dapat kerja,

Tak berguna ijazahmu

Empat tahun lamanya bergelut dengan buku

sia-sia semuanya

setengah putus asa ia berkata “maafkan aku ibu …”

Berdasarkan realitas diatas, maka pasti timbul sebuah pertanyaan, “Apakah pendidikan tinggi (baca kuliah) itu diperlukan atau tidak?”. Jawabannya bukanlah perlu atau tidak perlu, serta penting atau tidak penting karena kuliah maupun pendidikan formal apa pun tetap diperlukan. Akan tetapi masyarakat jangan lagi terjebak mitos bahwa : KULIAH, sebagai cara yang dianggap paling ideal meraih sukses. Oleh karena itu, bagi anda yang tidak diterima di PTN atau tidak mampu kuliah, jangan lagi merasa memiliki masa depan suram, karena banyak jalan menuju kesuksesan bahkan kekayaan, salah satunya berwirausaha. Sebaliknya, bagi yang sudah kuliah, agar tidak berbangga diri dan merasa masa depan pasti sukses. Anda harus mengkaji dan merenung kembali apakah pilihan kuliah sudah tepat, karena anda memang tidak latah, atau karena pengaruh teman / lingkungan, alasan prestise, bahkan hanya berharap pekerjaan ‘aman’ Dengan demikian, kuliah atau tidak, sangat – sangat tergantung dari individu dan setidaknya pertimbangan itu dapat didasarkan pada empat hal sebagai berikut :

Pertama, tujuan hidup. Bila tujuan hidup anda misalnya sukses dan ukurannya pekerjaan ‘aman’ dan gaji ‘bagus’, maka kuliah (mungkin) tepat. Akan tetapi anda harus bersiap-siap kecewa bahkan frustasi bila tidak dapat mendapatkannya. Mari kita amati lapangan pekerjaan di negeri ini. Jika pada era 80-an seorang sarjana menjadi ‘primadona’, dan sekarang persaingan sudah sangat ketat, apalagi 5 tahun mendatang saat anda lulus. Demikian juga bila tujuan hidup anda ingin kaya dengan cara kuliah kemudian mencari pekerjaan, maka anda akan sangat sulit mewujudkan impian itu. Berbagai penelitian seperti yang dilakukan Thomas Stanley terhadap lebih dari 730 miliuner di Amerika menunjukkan dua pertiga keluarga miliuner memiliki bisnis sendiri (entrepreneur) dan sisanya profesional yang bekerja sendiri (self employee) seperti dokter dan akuntan publik. Jadi, kuliah atau tidak, sangat tergantung dari tujuan hidup. Dengan demikian, jika dengan kuliah semakin menjauhkan dari tujuan hidup anda, sebaiknya tidak kuliah dan sebaliknya.

Kedua, bakat minat dan potensi diri. Jika anda yakin kuliah merupakan cara tepat mengembangkan bakat minat dan potensi diri anda serta mendekatkan kepada tujuan hidup anda, pilihan kuliah cukup realistis. Jika tidak, anda harus memilih cara lain seperti berbisnis atau lainnya, daripada membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak anda sukai atau sesuai dengan potensi terbaik anda. Bila dipaksakan, meski nanti dapat pekerjaan, anda tidak akan mencintai pekerjaan anda, dan akibatnya anda beralih profesi atau terpaksa terus bekerja dan karir anda akan sulit berkembang.

Ketiga, biaya. Meski anda mampu membiayai kuliah, namun faktor biaya tetap harus diperhatikan, apalagi jika tidak mampu. Bila memakai pertimbangan agak ‘matre’ sedikit, anda bisa membandingkan biaya kuliah dengan peluang penghasilan sebagai pegawai nanti. Kalau mau jujur, kuliah dengan biaya yang tingginya selangit itu (puluhan juta rupiah) justru membuat orang miskin semakin miskin, akibat memaksakan diri kuliah dan hanya berharap pekerjaan setelah lulus. Sebab, meski dapat pekerjaan, gaji yang diterima sering tidak sesuai impian, karena banyak sarjana baru di gaji kurang dari satu juta rupiah, sehingga untuk mencapai ‘pulang pokok modal’ atau Break Even Point (BEP) butuh waktu lama, dibandingkan jika uang puluhan juta rupiah itu (diperoleh dengan berbagai cara termasuk hutang, atau menjual aset berharga seperti tanah / rumah tinggal) untuk investasi atau berwirausaha. Data Survei Sosial Ekonomi (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 sebagaimana dikutip Teguh Yudo Wicaksono (2004) menunjukkan seorang pekerja lulusan PT hanya memiliki pendapatan 3 kali lipat lebih tinggi dibanding lulusan SD, meski biaya kuliah mencapai 11 kali dibanding biaya seorang siswa SD. Pertimbangan semacam ini pasti akan sulit diterima berbagai kalangan, karena pendidikan memang tidak bisa hanya diukur dari untung rugi secara materi saja. Tetapi bukankah selama ini masyarakat secara tidak sadar, menjadikan pendidikan hanya formalitas (meraih ijazah) untuk ‘modal’ melamar pekerjaan ‘aman’ dengan gaji ‘bagus’? Sebab bila benar-benar belajar dan menuntut ilmu serta mengembangkan potensi terbaik dalam diri kita, maka pengangguran tidak akan sebanyak saat ini. Oleh karena itu, inilah momen tepat untuk kembali ke jalan yang ‘benar’ dengan memaknai kuliah sesuai tujuan luhur pendidikan, tidak hanya berorientasi pekerjaan.

Keempat, waktu. Untuk menjadi sarjana sedikitnya dibutuhkan waktu empat sampai lima tahun, sehingga jangan sampai anda sia-siakan waktu panjang itu. Maksud saya, bila anda tidak yakin dengan kuliah dapat mendekatkan kepada tujuan hidup anda sementara anda tetap memaksakan kuliah, maka bisa saja ditengah perjalanan atau setelah lulus nanti anda tidak berminat lagi menjadi pegawai atau tidak mampu bersaing memperoleh pekerjaan sehingga akhirnya beralih profesi, maka itu artinya anda telah mensia-siakan waktu akibat keputusan yang salah.

Nah, kini saatnya anda merenungkan kembali tentang keputusan apakah harus kuliah atau berwirausaha. Bila anda kebetulan telah memilih wirausaha daripada kuliah, jangan takut lagi dikatakan tidak intelek atau tidak berpendidikan, karena anda bisa belajar secara otodidak, membaca buku, seminar, workshop dan lainnya. Belajar itu tidak hanya di sekolah formal, sebab ilmu ada dimana-mana, di ‘sekolah besar’ kehidupan ini. Sekali lagi, mari kita merubah mind set (pola pikir) bahwa sukses tidak selalu identik gelar akademik, tetapi sukses adalah hak semua orang meski tidak pernah mengenyam kuliah. Paradigma lama : KULIAH (berharap rangking bagus) ? PEKERJAAN AMAN ? FINANSIAL AMAN, harus dikikis karena sudah basi alias ketinggalan jaman.