Pos Pengeluaran Berhemat

July 6th, 2010 Safak Muhammad Posted in Financial, Inspirations No Comments »

Tulisan ini dimuat di Majalah Nurul Hayat Surabaya, Juni 2010

banersepedabukubagus.jpg

Setiap bulan selalu ada surat elektronik (email) yang masuk ke alamat saya dan selalu ada pertanyaan yang isinya hampir sama. Beginilah kira-kira isi email itu. “Pak, saya adalah karyawan yang sudah bekerja sekian tahun dengan gaji lumayan besar. Meski penghasilan saya besar, tapi anehnya saya tidak memiliki tabungan yang cukup banyak. Gaji pas-pasan saja. Maksudnya, gaji selalu pas untuk kebutuhan keluarga (tidak ada sisa uang), sehingga tidak bisa menabung atau investasi. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa berhemat dan menabung? Sebab selama ini saya merasa seluruh gaji tiap bulan itu pas untuk membiayai kebutuhan sebulan. Saya juga merasa bahwa rasanya pos-pos pengeluran itu sama pentingnya dan tidak bisa dikurangi”

Itulah pertanyaan yang sering saya terima. Karena itu, saya menganggap pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik. Karena masalah klasik, maka hampir semua orang memiliki penyakit ini, yakni sulit berhemat dan tidak bisa menabung.

Sesungguhnya, kunci utama agar kita dapat menabung dan berhemat adalah terletak pada pola pikir kita terhadap uang dan kemauan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Apabila hal ini sudah kita miliki maka kita akan mampu mengendalikan diri dan memiliki kemampuan untuk menunda kesenangan.

Untuk dapat berhemat dan menabung, maka pola pikirnya harus dibalik. Kalau selama ini kita berpikir bahwa kita akan menabung kalau memiliki uang sisa bulanan, maka saya jamin kita tidak akan bisa menabung. Kalau pun bisa menabung, maka tabungan kita tidak akan optimal. Untuk dapat menabung, maka kita harus melakukan hal yang sebaliknya. Berapa pun penghasilan kita, sisihkan terlebih dahulu sebagian untuk menabung. Kalau perlu, kita  membuat dua rekening tabungan yakni rekening untuk penerimaan penghasilan (gaji) dan pengeluaran rutin bulanan, serta satu rekening khusus untuk tabungan investasi. Bahkan kita pun bisa memaksa diri untuk menabung dengan cara meminta bantuan bank untuk memindahkan secara otomatis setiap bulan uang gaji ke rekening investasi. Jadi begitu gaji kita masuk rekening, maka bank akan langsung mendebitnya. Dengan cara ini maka  kita tidak lagi tergoda untuk menggunakan seluruh gaji bulanan. Bagaimana dengan para wiraswasta atau orang-orang tidak memilik penghasilan tetap atau yang ‘tidak memiliki gaji’ rutin? Mereka tetap bisa melakukan hal itu. Bagi pengusaha misalnya, mereka harus menggaji dirinya sendiri, dan memisahkan uang gaji itu dari modal perusahaan. Dari uang gaji itu kemudian dipisahkan lagi, untuk menabung dan kebutuhan rumah tangga.

Setelah kita menyisihkan uang untuk tabungan, maka sisanya kita bisa membagi sesuai pos-pos pengeluaran bulanan. Kita harus bisa hidup dari sisa uang itu. Tentu saja, ada konsekuensi yang harus dilakukan, yakni menyesuaikan pos-pos pengeluaran selama bulan itu. Kita harus mengurangi pos-pos pengeluaran yang bisa dikurangi dan yang sifatnya fleksibel. Mungkin anda akan berpikir, “Mana mungkin mengurangi biaya hidup ditengah meningkatnya harga kebutuhan pokok/sembako?” Nah, disini kita dituntut untuk mengubah paradigma. Kalau kita menganggap bahwa kebutuhan tidak bisa dikurangi, maka selama itu pula kita tidak bisa  menekan pos-pos pengeluaran bulanan. Memang ada pos-pos pengeluaran yang sifatnya tetap, fixed tidak bisa diutak-atik seperti biaya listrik, kebutuhan pangan dan sandang, tapi itu bukan berarti tidak bisa dihemat.  Mari kita buktikan bahwa sesungguhnya masih ada banyak cara bagi kita untuk dapat berhemat. Masalahnya adalah apakah kita mau melakukannya atau tidak. Dan kabar buruknya, banyak orang tidak mau berhemat karena khawatir kenikmatannya akan berkurang.

Ada banyak cara untuk dapat berhemat, diantaranya adalah sebagai berikut: Pertama, bila kita seorang perokok, kita bisa mengurangi atau bahkan menghentikan merokok. Mungkin anda akan bilang, “mana mungkin berhenti merokok? Apalagi saya tidak bisa bekerja atau tidak bisa berpikir tanpa rokok” Saya yakin tidak ada orang yang mati karena berhenti merokok. Karena itu, keputusan ini sangat tergantung pada diri kita. Apalagi merokok berbahaya bagi kesehatan. Dengan mengurangi merokok, mungkin biaya kesehatan kita akan berkurang karena kesehatan kita akan menjadi lebih baik.

Kalau selama ini  kita menghabiskan sebungkus rokok setiap hari, maka selama sebulan kita mengeluarkan uang kurang lebih Rp300 ribu sebulan atau Rp3,6 juta setahun. Maka kalau kita mampu mengurangi separuhnya saja, kita bisa menghemat Rp1,8 juta setahun. Apalagi kalau kita bisa berhenti sama sekali merokok kita bisa hemat Rp3,6 juta setahun!

Kedua, pos pengeluaran untuk hiburan (nonton film, makan di restauran, rekreasi dan sejenisnya) bisa juga dikurangi. Kalau selama ini kita hobi jalan-jalan setiap akhir pekan di mall kemudian dilanjutkan dengan belanja dan makan bersama keluarga, maka kita bisa menguranginya menjadi 2 minggu sekali atau bahkan 1 bulan sekali. Atau bisa saja anda tetap jalan-jalan ke mall, tapi makannya di rumah dan belanjaannya di-stop.

Kalau selama ini setiap bulan kita menghabiskan uang untuk hiburan Rp200 ribu sebulan atau Rp2,4 juta setahun (dengan asumsi setiap minggu/sekali makan bersama dan biaya  transportasi Rp50 ribu), maka apabila kita berhasil menghemat setengahnya saja, kita bisa  mendapatkan uang Rp1,2 juta setahun.

Ketiga, pos untuk listrik, telepon, HP, dan air. Ada yang bilang pos pengeluaran ini fixed¸ tidak dapat dikurangi, karena sudah rutin dan sesuai kebutuhan. Apa benar? Tentu saja tidak demikian. Pos ini masih bisa dihemat, misalnya dengan cara memakai air seperlunya. Mematikan listrik bila tidak digunakan, ngobrol dengan HP atau telepon seperlunya. Kalau selama ini kita mengeluarkan Rp500 ribu untuk biaya itu, maka bila kita bisa berhemat 20%, dalam setahun kita bisa mendapatkan uang tabungan Rp1,2 juta.

Keempat, pos pengeluaran makan siang di kantor. Biaya untuk makan siang di kantor ini relatif besar. Kalau rata-rata sekali makan Rp20.000,- maka dalam sebulan kita akan  mengeluarkan Rp600 ribu. Pos ini juga bisa dihemat dengan cara membawa makanan dari rumah. Selain menghemat, makanan dari rumah biasanya lebih higienis dan bergizi. Kalau kita tidak bisa setiap hari membawa makanan, maka dengan asumsi setengah bulan saja, maka kita bisa menghemat Rp300 ribu per bulan atau Rp3,6 juta setahun. Sebuah angka yang relatif besar.

Keempat pos pengeluaran diatas hanya sebagian dari puluhan pos pengeluaran yang bisa dihemat. Kita bisa melakukan penghematan terhadap pos pengeluaran yang lain. Bayangkan berapa uang yang bisa kita hemat dan kita tabung apabila kita bisa melakukan penghematan diberbagai pos pengeluaran. Sebab, dengan hanya menghemat keempat pos pengeluaran diatas, kita bisa menghemat jutaan rupiah setahun.

Apa yang saya sampaikan diatas, hanyalah ilustrasi dari beberapa pos pengeluaran bulanan yang bisa dihemat. Kelihatannya memang mudah dan sederhana tapi hasilnya sangat menarik. Namun demikian, belum tentu anda mau melakukannya, karena mungkin masih ada seribu satu alasan untuk menundanya. Karena itu, kalau anda mau menabung dan berhemat, tidak ada cara yang lebih ampuh kecuali segera bertindak melakukannya.

Demikian, semoga bermanfaat dan selamat mencoba

AddThis Social Bookmark Button

Mengelola Hutang Agar Tidak Jual Kutang

March 1st, 2010 Safak Muhammad Posted in Business, Financial, Inspirations No Comments »


Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Nurul Hayat - Surabaya

Setiap hari, kita selalu di kepung dengan berbagai iklan produk dan jasa. Bahkan iklan hutang pun ada dimana-mana. Coba perhatikan, saat kita nonton televisi, commercial break atau iklan setiap saat muncul. Saat kita sedang asyik nonton tv dan ada iklan muncul, kita kemudian berniat pindah channel atau pindah saluran tv. Apa yang terjadi adalah hal yang sama, IKLAN juga muncul di sana. Demikian juga saat kita mau dengerin  radio, disana juga ada iklan. Kita dalam perjalanan, billboard iklan juga ada dimana-mana. Depan, kanan dan kiri gambar dan bujukan iklan siap menghadang kita. Kalau iklan itu hanya menawarkan produk dan jasa biasa seperti makanan, minuman atau produk properti mungkin masih kita anggap wajar. Yang banyak terjadi saat ini adalah iklan-iklan konsumtif seperti iklan liburan pakai kredit, iklan shopping pakai kartu kredit dan sejenisnya. Dengan penawaran yang menggoda, iklan itu seringkali membuat kita membelinya.

Karena itu, dalam kehidupan modern dengan gaya konsumerisme seperti saat ini, sulit kita menemukan orang yang bebas hutang. Selain tuntutan kebutuhan yang meningkat, juga karena godaan berbagai iklan produk yang setiap tahun bertambah jumlahnya. Tidak hanya itu, jika dulu orang ‘malu’ berhutang, kini hutang justru menjadi produk yang menguntungkan dan pasarnya sangat luas. Kita dapat saksikan betapa banyak bank dan lembaga perkreditan gencar menawarkan hutang kepada masyarakat. Bila melalui hutang belum berhasil menggaet debitur (konsumen), mereka berusaha menawarkan barang dengan berbagai kemudahan pembayarannya. Bahkan untuk paket liburan wisata saja, orang ditawari bayar secara kredit!.

Dalam menghadapi kondisi yang demikian itu, kita harus mampu menahan dan membedakan  mana kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Kita harus pula mengetahui managemen hutang yang baik, agar kita tidak terjerumus dalam jebakan hutang dan sampai ‘menjual kutang (maaf, BH)’ karena kita sudah kehabisan aset untuk melunasinya.

Hutang memang tidak dilarang, apalagi diharamkan. Akan tetapi mengurangi hutang dan memanfaatkan hutang sesuai dengan kebutuhan adalah cara yang paling bijaksana. Karena itu, sebelum anda  berhutang hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :

 

Niat baik

Saat anda harus ngutang maka jangan pernah sekali-kali berniat untuk tidak membayar hutang. Karena selain harus dipertanggung jawabkan di akhirat, di dunia pun, orang  yang ngemplang secara sengaja akan menemukan kesulitan. Kalau pun si pemilik uang (kreditor) tidak melakukan perlawanan, nama baik kita akan tercemar. Orang tidak akan percaya lagi pada Anda. Akibatnya, bila sewaktu- waktu membutuhkan uang atau modal, maka jangan harap mendapatkan kembali. Masalah uang dan hutang ini sangat sensitif, sehingga perbuatan jelek anda akan cepat menyebar ke berbagai kalangan. Islam mengajarkan kepada kita, agar hutang segera dilunasi bila sudah mampu membayarnya. Islam juga memberikan ajaran berupa do’a agar kita diberikan kemudahan membayar hutang.

 

Tingkat prioritas kebutuhan

Seringkali kita melakukan hutang  karena untuk membeli barang atau jasa yang sebenarnya tidak kita perlukan. Sebagai contoh, kita membeli hp baru karena ada tawaran ‘menarik’ angsuran tanpa bunga dari kartu kredit atau dari penjual hp. Padahal kita sesungguhnya belum memerlukan ganti hp. Karena ada ‘fasilitas’ hutang maka anda merasa harus membeli hp itu. Mungkin anda akan bilang dalam hati, “Kapan lagi ada kesempatan ini”. Padahal, tawaran-tawaran seperti itu hampir setiap hari ada dimana-mana. Penjual memang sengaja membuat penawaran yang seolah-olah terbatas sehingga anda harus bertindak hari itu juga. Tawaran terbatas itu misalnya, “Cicilan Tanpa Bunga Hanya Hari ini, untuk 10 Orang pertama”. Sekali lagi, ini semua adalah trik penjual. Karena, dalam membeli produk anda harus tetap berdasar prinsip prioritas pada kebutuhan, “penting dan mendesak!”

Kemampuan Membayar

Kita memang sering lupa kalau dalam berhutang harus memperhatikan kemampuan membayar. Coba perhatikan, saking semangatnya, kita sering memaksakan berhutang - meski sudah tidak memiliki kemampuan membayar, dengan harapan ada rejeki di kemudian hari. Sebagai contoh, banyak karyawan yang tidak sabar membelanjakan ‘bonus’ yang akan diterima. Mereka membeli barang konsumtif dengan cara kredit dan akan dibayar saat bonus dibagikan. Tentu saja cara ini tidak benar.

Tidak ada aturan pasti berapa persen dari penghasilan yang bisa digunakan untuk membayar hutang, namun sebagian pakar keuangan menyarankan maksimal 40 persen. Misalnya penghasilan Anda saat ini sebesar Rp4.000.000,- per bulan, maka maksimal Rp1.600.000,- yang bisa anda gunakan untuk mengangsur.

Persetujuan pasangan

Hutang yang kita ambil akan menjadi taruhan kita di akhirat, apabila kita tidak bisa melunasinya sampai mati. Itulah sebabnya kita harus memberitahukan kepada pasangan (suami/istri), agar mereka juga ikut bertanggung jawab atas hutang kita. Akan lebih baik bila anda tidak hanya memberitahukan tetapi juga mendapatkan persetujuan pasangan. Langkah ini untuk memudahkan anda dalam mengatur keuangan secara keseluruhan. Bayangkan bila Anda ngumpet karena anda tidak mendapatkan persetujuan dari pasangan, maka bila suatu saat anda tidak mampu membayar hutang, hal ini akan merepotkan pasangan bahkan bisa memicu hubungan keluarga menjadi tidak nyaman. Tidak hanya itu, beban keuangan anda juga akan bertambah berat karena anda harus membayar angsuran. Padahal kalau anda bicarakan dengan pasangan, maka pos-pos pengeluaran yang lain tentu bisa dinego atau disesuaikan sehingga bisa mengurangi beban keuangan.

Selain itu, bila hutang sudah dibicarakan, maka suka-duka dalam berhutang bisa dipikul bersama. Lebih penting dari itu, apabila anda meninggal dan hutang belum lunas, mereka akan berusaha melunasi sehingga tidak menjadi beban anda di akhirat.

Hutang Baik dan Hutang Buruk

Tidak semua hutang itu jelek, tergantung jenis dan peruntukannya. Bila digunakan untuk membeli kebutuhan konsumtif (barang-barang yang nilainya menurun) seperti membeli HP terbaru, mobil baru dan lainnya itu termasuk hutang buruk. Lain halnya kalau anda hutang untuk keperluan produktif seperti modal kerja, investasi ruko, rumah, rukan dan lainnya.

Karena itu, untuk keperluan produktif, bila anda mau, silahkan Anda berhutang! Namun untuk keperluan konsumtif, langkah yang paling bijaksana adalah tidak memaksakan diri untuk hutang atau tidak membeli secara kredit. Barang konsumtif sebaiknya dibeli secara tunai. Bila belum mampu, tunda sementara waktu untuk membeli barang tersebut. Prinsip buy now pay later (beli sekarang bayar kemudian) harus dibuang jauh-jauh untuk barang konsumtif, karena prinsip itu menyusahkan dikemudian hari.

 

Sisakan kapasitas untuk hutang darurat

Siapa pun tidak akan tahu bagaimana kondisi keuangan kita. Hari ini bisa saja rejeki anda berlimpah, tapi mungkin tahun depan rejeki anda tersendat atau berkurang. Bisa juga anda memiliki rejeki yang bertambah berlimpah. Karena adanya ketidakpastian itulah maka tidak selayaknya kita menggunakan sebagian besar penghasilan untuk membayar angsuran kredit. Kita perlu menyediakan ‘ruang’ untuk berjaga-jaga manakala kita membutuhkan dana darurat. Memang, idealnya kita memiliki dana cadangan berupa uang tunai untuk kondisi darurat tersebut. Namun bila kondisi keuangan masih belum memungkinkan untuk itu, tidak ada salahnya jika kita tidak ‘rakus’ dengan hutang sehingga tidak ada ‘ruang’ untuk berhutang lagi.

 

Prioritaskan pembayaran hutang berbunga besar.

Bila saat ini sudah terlanjur punya hutang banyak bagaimana? Bila demikian kondisinya, anda harus memprioritaskan untuk melunasi hutang yang berbunga besar. Kartu kredit, hutang rentenir atau kredit tanpa agunan (KTA) biasanya berbunga besar. Jenis kredit seperti itu harus segera dilunaskan, agar tidak membebani keuangan anda. Bila anda memiliki dua kartu kredit dengan penggunaan maksimal, prioritaskan pelunasan kartu kredit berbunga besar. Saat ini banyak bank penerbit kartu kredit yang menawarkan transfer balance (melunasi outstanding kredit di tempat lain, dan memindahkan hutangnya ke tempat penerbit kartu kredit baru). Anda dapat memanfaatkan fasilitas itu, bila bunga yang ditawarkan lebih rendah untuk melunasi kartu kredit yang sedang berjalan. Setelah lunas, sebaiknya tidak menggunakan lagi kartu kredit untuk kepentingan konsumtif. Silahkan gunting kartu kredit anda selama masa pelunasan ini agar anda tidak tergoda untuk menggesek-gesek lagi.

Selain anda memperhatikan managemen hutang sebagaimana penjelasan diatas, anda harus memperhatikan pula managemen piutang (memberikan hutang kepada pihak lain). Bagi pengusaha, hutang-piutang adalah hal biasa. Namun bagi karyawan, piutang yang diberikan biasanya hanya berhubungan dengan bantuan kepada pihak lain, jarang yang berhubungan dengan bisnis. Anda tentu tidak bisa menolak begitu saja bila ada teman, saudara atau orang dekat anda yang memerlukan bantuan keuangan. Misalnya ada saudara membutuhkan biaya sekolah atau berobat, sebaiknya anda memberikan bantuan atau hutang sesuai kemampuan. Syukur-syukur bila memberikan bantuan sesuai permintaannya. Meski niat untuk memberikan hutang untuk menolong, tidak jarang uang anda tidak terbayar. Karena itu Anda harus selektif dalam memberikan hutang. Apakah hutang benar-benar sesuai kebutuhannya ataukah si peminjam sengaja ingin ngemplang (tidak mau bayar).

Berkenaan dengan piutang tersebut, Islam mengajarkan bila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya akan lebih baik bila diberikan kelonggaran sampai kita sedekahkan, sebagaimana firman Allah :

“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh (waktu) sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Q.S Al - Baqarah (2) : 280

Wallahu a’lam bisshawaab,

semoga bermanfaat.

AddThis Social Bookmark Button