Setiap bulan selalu ada surat elektronik (email) yang masuk ke alamat saya dan selalu ada pertanyaan yang isinya hampir sama. Beginilah kira-kira isi email itu. “Pak, saya adalah karyawan yang sudah bekerja sekian tahun dengan gaji lumayan besar. Meski penghasilan saya besar, tapi anehnya saya tidak memiliki tabungan yang cukup banyak. Gaji pas-pasan saja. Maksudnya, gaji selalu pas untuk kebutuhan keluarga (tidak ada sisa uang), sehingga tidak bisa menabung atau investasi. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa berhemat dan menabung? Sebab selama ini saya merasa seluruh gaji tiap bulan itu pas untuk membiayai kebutuhan sebulan. Saya juga merasa bahwa rasanya pos-pos pengeluran itu sama pentingnya dan tidak bisa dikurangi”
Itulah pertanyaan yang sering saya terima. Karena itu, saya menganggap pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik. Karena masalah klasik, maka hampir semua orang memiliki penyakit ini, yakni sulit berhemat dan tidak bisa menabung.
Sesungguhnya, kunci utama agar kita dapat menabung dan berhemat adalah terletak pada pola pikir kita terhadap uang dan kemauan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Apabila hal ini sudah kita miliki maka kita akan mampu mengendalikan diri dan memiliki kemampuan untuk menunda kesenangan.
Untuk dapat berhemat dan menabung, maka pola pikirnya harus dibalik. Kalau selama ini kita berpikir bahwa kita akan menabung kalau memiliki uang sisa bulanan, maka saya jamin kita tidak akan bisa menabung. Kalau pun bisa menabung, maka tabungan kita tidak akan optimal. Untuk dapat menabung, maka kita harus melakukan hal yang sebaliknya. Berapa pun penghasilan kita, sisihkan terlebih dahulu sebagian untuk menabung. Kalau perlu, kita membuat dua rekening tabungan yakni rekening untuk penerimaan penghasilan (gaji) dan pengeluaran rutin bulanan, serta satu rekening khusus untuk tabungan investasi. Bahkan kita pun bisa memaksa diri untuk menabung dengan cara meminta bantuan bank untuk memindahkan secara otomatis setiap bulan uang gaji ke rekening investasi. Jadi begitu gaji kita masuk rekening, maka bank akan langsung mendebitnya. Dengan cara ini maka kita tidak lagi tergoda untuk menggunakan seluruh gaji bulanan. Bagaimana dengan para wiraswasta atau orang-orang tidak memilik penghasilan tetap atau yang ‘tidak memiliki gaji’ rutin? Mereka tetap bisa melakukan hal itu. Bagi pengusaha misalnya, mereka harus menggaji dirinya sendiri, dan memisahkan uang gaji itu dari modal perusahaan. Dari uang gaji itu kemudian dipisahkan lagi, untuk menabung dan kebutuhan rumah tangga.
Setelah kita menyisihkan uang untuk tabungan, maka sisanya kita bisa membagi sesuai pos-pos pengeluaran bulanan. Kita harus bisa hidup dari sisa uang itu. Tentu saja, ada konsekuensi yang harus dilakukan, yakni menyesuaikan pos-pos pengeluaran selama bulan itu. Kita harus mengurangi pos-pos pengeluaran yang bisa dikurangi dan yang sifatnya fleksibel. Mungkin anda akan berpikir, “Mana mungkin mengurangi biaya hidup ditengah meningkatnya harga kebutuhan pokok/sembako?” Nah, disini kita dituntut untuk mengubah paradigma. Kalau kita menganggap bahwa kebutuhan tidak bisa dikurangi, maka selama itu pula kita tidak bisa menekan pos-pos pengeluaran bulanan. Memang ada pos-pos pengeluaran yang sifatnya tetap, fixed tidak bisa diutak-atik seperti biaya listrik, kebutuhan pangan dan sandang, tapi itu bukan berarti tidak bisa dihemat. Mari kita buktikan bahwa sesungguhnya masih ada banyak cara bagi kita untuk dapat berhemat. Masalahnya adalah apakah kita mau melakukannya atau tidak. Dan kabar buruknya, banyak orang tidak mau berhemat karena khawatir kenikmatannya akan berkurang.
Ada banyak cara untuk dapat berhemat, diantaranya adalah sebagai berikut: Pertama, bila kita seorang perokok, kita bisa mengurangi atau bahkan menghentikan merokok. Mungkin anda akan bilang, “mana mungkin berhenti merokok? Apalagi saya tidak bisa bekerja atau tidak bisa berpikir tanpa rokok” Saya yakin tidak ada orang yang mati karena berhenti merokok. Karena itu, keputusan ini sangat tergantung pada diri kita. Apalagi merokok berbahaya bagi kesehatan. Dengan mengurangi merokok, mungkin biaya kesehatan kita akan berkurang karena kesehatan kita akan menjadi lebih baik.
Kalau selama ini kita menghabiskan sebungkus rokok setiap hari, maka selama sebulan kita mengeluarkan uang kurang lebih Rp300 ribu sebulan atau Rp3,6 juta setahun. Maka kalau kita mampu mengurangi separuhnya saja, kita bisa menghemat Rp1,8 juta setahun. Apalagi kalau kita bisa berhenti sama sekali merokok kita bisa hemat Rp3,6 juta setahun!
Kedua, pos pengeluaran untuk hiburan (nonton film, makan di restauran, rekreasi dan sejenisnya) bisa juga dikurangi. Kalau selama ini kita hobi jalan-jalan setiap akhir pekan di mall kemudian dilanjutkan dengan belanja dan makan bersama keluarga, maka kita bisa menguranginya menjadi 2 minggu sekali atau bahkan 1 bulan sekali. Atau bisa saja anda tetap jalan-jalan ke mall, tapi makannya di rumah dan belanjaannya di-stop.
Kalau selama ini setiap bulan kita menghabiskan uang untuk hiburan Rp200 ribu sebulan atau Rp2,4 juta setahun (dengan asumsi setiap minggu/sekali makan bersama dan biaya transportasi Rp50 ribu), maka apabila kita berhasil menghemat setengahnya saja, kita bisa mendapatkan uang Rp1,2 juta setahun.
Ketiga, pos untuk listrik, telepon, HP, dan air. Ada yang bilang pos pengeluaran ini fixed¸ tidak dapat dikurangi, karena sudah rutin dan sesuai kebutuhan. Apa benar? Tentu saja tidak demikian. Pos ini masih bisa dihemat, misalnya dengan cara memakai air seperlunya. Mematikan listrik bila tidak digunakan, ngobrol dengan HP atau telepon seperlunya. Kalau selama ini kita mengeluarkan Rp500 ribu untuk biaya itu, maka bila kita bisa berhemat 20%, dalam setahun kita bisa mendapatkan uang tabungan Rp1,2 juta.
Keempat, pos pengeluaran makan siang di kantor. Biaya untuk makan siang di kantor ini relatif besar. Kalau rata-rata sekali makan Rp20.000,- maka dalam sebulan kita akan mengeluarkan Rp600 ribu. Pos ini juga bisa dihemat dengan cara membawa makanan dari rumah. Selain menghemat, makanan dari rumah biasanya lebih higienis dan bergizi. Kalau kita tidak bisa setiap hari membawa makanan, maka dengan asumsi setengah bulan saja, maka kita bisa menghemat Rp300 ribu per bulan atau Rp3,6 juta setahun. Sebuah angka yang relatif besar.
Keempat pos pengeluaran diatas hanya sebagian dari puluhan pos pengeluaran yang bisa dihemat. Kita bisa melakukan penghematan terhadap pos pengeluaran yang lain. Bayangkan berapa uang yang bisa kita hemat dan kita tabung apabila kita bisa melakukan penghematan diberbagai pos pengeluaran. Sebab, dengan hanya menghemat keempat pos pengeluaran diatas, kita bisa menghemat jutaan rupiah setahun.
Apa yang saya sampaikan diatas, hanyalah ilustrasi dari beberapa pos pengeluaran bulanan yang bisa dihemat. Kelihatannya memang mudah dan sederhana tapi hasilnya sangat menarik. Namun demikian, belum tentu anda mau melakukannya, karena mungkin masih ada seribu satu alasan untuk menundanya. Karena itu, kalau anda mau menabung dan berhemat, tidak ada cara yang lebih ampuh kecuali segera bertindak melakukannya.
Demikian, semoga bermanfaat dan selamat mencoba








