Appraiser Profesional yang tidak Profesional

Dua bulan lalu, seorang teman mengajukan kredit ke salah satu bank BUMN. Salah satu syarat yang diminta bank adalah jaminan yang akan diserahkan ke bank harus diappraisal (dinilai) oleh appraiser dari appraiser independent dan profesional. Teman saya ini kemudian menceritakan kekecewaannya kepada saya karena rumahnya dinilai tidak sesuai harga pasar. Menurutnya, nilai taksasi rumahnya terlalu rendah karena dia membeli dan merenovasi rumah itu 2 tahun lalu total menghabiskan Rp1.000.000.000,- (satu milyar rupiah), tapi hanya dinilai Rp900 juta. (Menurut dia, harga pasar rumahnya adalah Rp1,3 Milyar – Rp1,5 Milyar).

Atas keluhan itu, saya kemudian minta dia membawa dokumen hasil taksasi rumahnya. Dari dokumen itu kemudian saya perhatikan, ada data pembanding harga di deket rumahnya. Kemudian saya tanyakan kepada dia, apakah dia kenal dengan nama-nama orang yang disebutkan di dokumen appraisal itu. Dia mengatakan tidak kenal sama sekali dengan mereka. Bahkan menurutnya alamat rumah yang digunakan sebagai data pembanding pun dicurigai fiktif karena tidak ada nomor rumah dan tidak ada nomor telepon rumahnya.

Saya kemudian bilang sama teman saya ini, agar mendiskusikan kepada appraiser dan menanyakan kebenaran hasil appraisal itu. Ternyata apparaiser malah berdalih tidak ada kewajiban berdiskusi dan berhubungan langsung dengan calon debitur. Kata appraiser. kalau mau komplain hasil taksasi jaminan disarankan kepada banknya.  Singkat cerita, teman saya ini kemudian komplain ke bank dan tetap saja tidak merubah hasil taksasinya.

Dua bulan kemudian (lama amaaattttt proses kreditnya? apa ini bank BUMN semua begini?), petugas bank menelpon kepada teman saya ini, bahwa proses kreditnya hampir disetujui tapi nilai jaminan rumahnya harus di taksasi ulang. Lho kenapa bisa begitu? Tanya teman saya kepada petugas bank. Petugas bank bilang bahwa apparaiser yang sebelumnya sejak 2 minggu lalu sudah termasuk dalam daftar blacklist rekanan bank tersebut. (Kondisi ini tentu saja merugikan calon debitur karena harus membayar 2 kali biaya appraiser, sementara kreditnya belum tentu disetujui).

 

Nah, dari kejadian seperti itu, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak semua appraiser independent yang disewa bank untuk menilai jaminan calon debitur, itu profesional. Banyak diantara mereka yang tidak profesional dan ada juga yang bisa dibeli dengan uang untuk mark up  nilai jaminan. Karena itu, bagi anda yang akan membeli rumah/properti jangan mudah percaya kepada appraiser begitu saja. Sebab sering kali terjadi, penjual rumah memakai tameng appraiser independent untuk menaikkan harga rumahnya.

 

Kalau anda mendapatkan hasil penilaian appraiser independent, hal yang penting anda perhatikan adalah data-data pembanding yang disampaikan. Cek dengan teliti apakah data itu valid atau data fiktif yang digunakan untuk mencari pembenaran atas hasil taksasinya.

Comments are closed.

Recent Comments

  • sri wulandari:
    Subhanalloh, artikelnya sangat bermanfaat…sukron, sukses untuk kita semua, amin.
  • deni permadi:
    pa saya menjual beberapa koleksi buku dan novel luar negeri contoh koleksi saya : 1. ACT &...
  • admin:
    anda punya bisnis apa pak? Tq
  • indra gunawan:
    Bisa minta alamat email dan contact personnya
  • indra gunawan:
    Bisa kami bergabung, untuk daerah bekasi ada nga?

Sponsor









Follow