Pendidikan di Korea Utara: Gratis dan Sarat Propaganda
Korea Utara, negara yang dikenal dengan sistem pemerintahannya yang tertutup dan otoriter, memiliki sistem pendidikan yang unik dibandingkan dengan banyak negara lain di dunia. Pendidikan di negara ini bersifat gratis dan tersedia secara universal, dimulai sejak usia lima tahun. Namun, di balik sistem pendidikan yang tampak menjanjikan tersebut, terdapat muatan ideologi dan propaganda negara yang sangat kuat dalam seluruh jenjang pembelajaran.
Pendidikan di Korea Utara: Gratis dan Sarat Propaganda
Pemerintah Korea Utara sangat menekankan pentingnya pendidikan dalam membentuk warga negara yang loyal terhadap rezim. Sistem ini dikendalikan sepenuhnya oleh negara dan menjadi salah satu alat utama untuk menyebarkan ideologi Juche (kemandirian), serta menguatkan kultus individu terhadap para pemimpin Korea Utara.
1. Pendidikan Gratis dan Wajib dari Usia Dini
Salah satu ciri khas sistem pendidikan di Korea Utara adalah ketersediaan pendidikan gratis untuk semua warganya, mulai dari usia lima tahun. Pendidikan di negara ini diwajibkan selama 12 tahun, yang terbagi ke dalam beberapa jenjang:
1 tahun pra-sekolah (kindergarten)
5 tahun sekolah dasar
3 tahun sekolah menengah pertama
3 tahun sekolah menengah atas
Pemerintah mengklaim bahwa semua anak-anak mendapatkan akses pendidikan tanpa biaya, termasuk buku pelajaran, seragam sekolah, dan kebutuhan pokok lainnya. Fasilitas ini disediakan oleh negara sebagai bagian dari sistem sosialis yang diadopsi oleh Korea Utara.
2. Kurikulum Pendidikan yang Terpusat dan Ideologis
Kurikulum di Korea Utara tidak hanya berfokus pada pelajaran akademik seperti matematika, sains, dan bahasa, tetapi juga mengandung porsi besar mengenai sejarah, politik, dan ideologi negara. Siswa belajar mengenai perjuangan revolusioner Kim Il-sung, Kim Jong-il, dan Kim Jong-un secara mendalam.
Pelajaran seperti “Revolusi Kim Il-sung” dan “Pemikiran Juche” menjadi bagian wajib dalam kurikulum. Bahkan, sejak usia dini, anak-anak dikenalkan dengan lagu-lagu, cerita, dan doktrin yang memuja kepemimpinan dinasti Kim.
Kegiatan sekolah juga sering mencakup latihan militer dasar, pelatihan fisik, serta program kerja sosial yang dikaitkan dengan semangat patriotisme dan pengabdian kepada negara.
3. Sistem Seleksi dan Pendidikan Tinggi
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, siswa Korea Utara dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi seperti universitas atau politeknik. Namun, proses seleksi sangat ketat dan tidak hanya mempertimbangkan nilai akademis, tetapi juga latar belakang keluarga, loyalitas politik, serta catatan ideologi.
Salah satu universitas paling prestisius di Korea Utara adalah Kim Il-sung University, yang hanya menerima mahasiswa pilihan. Di universitas ini, pendidikan juga tetap dibumbui dengan pelajaran ideologis, meskipun program sains dan teknologi juga diberikan.
Mahasiswa biasanya akan diarahkan untuk bekerja di lembaga pemerintah, militer, atau institusi negara lainnya setelah lulus, sesuai dengan kebutuhan negara.
4. Kontrol Ketat dan Minimnya Keterbukaan Informasi
Salah satu tantangan dalam sistem pendidikan Korea Utara adalah minimnya akses terhadap informasi luar. Sumber pembelajaran dan referensi dibatasi hanya pada materi yang disetujui oleh negara. Internet dan media asing tidak dapat diakses oleh siswa, dan semua informasi harus sesuai dengan garis partai.
Guru pun menjalankan peran bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai penyebar ideologi negara. Mereka diharuskan mengawasi perilaku siswa dan melaporkan setiap penyimpangan dari ideologi yang telah ditetapkan.
5. Kritik Internasional dan Isu Hak Asasi
Meskipun sistem pendidikan di Korea Utara diklaim sebagai universal dan gratis, banyak pengamat internasional yang mengkritik kurangnya kebebasan akademik dan penanaman ideologi sepihak. Organisasi hak asasi manusia menyebut bahwa sistem ini digunakan sebagai alat politik untuk menciptakan loyalitas mutlak kepada penguasa.
Korea Utara menilai sistem ini sebagai bentuk kemajuan dan keberhasilan dalam memberikan pendidikan merata bagi seluruh rakyat
Penutup
Sistem pendidikan di Korea Utara memang unik dan berbeda dengan negara lain. Meskipun menawarkan pendidikan gratis dan wajib sejak usia lima tahun, isi dari sistem tersebut sangat kental dengan muatan ideologis yang mendukung kepentingan negara. Dalam sistem ini, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengembangan ilmu, tetapi juga sebagai alat kontrol politik.
Memahami sistem pendidikan di Korea Utara memberi kita gambaran bagaimana suatu negara dapat menggunakan pendidikan untuk membentuk masyarakat sesuai dengan arah politik dan ideologi tertentu. Ini sekaligus menjadi cerminan bahwa pendidikan adalah kekuatan besar—baik untuk membebaskan maupun membatasi.